Pria Biasa: Masuk ke toilet, ternyata penuh, keluar lagi dan kencing di balik pohon.
Lelaki Gaul: Selalu ikut temen-temennya ke toilet, walaupun dia tidak ingin buang air kecil. Pria Juling: Mencuri-curi pandang pria di sebelahnya ketika sedang kencing . Pria Pemalu: Jika merasa dilihat atau dilirik orang lain, air kencingnya tidak keluar, tapi pura-pura menyiram, keluar, lalu kembali lagi kemudian. Lelaki Malu-maluin: Kencing di celana. Lelaki Suka Melamun: Membuka kancing leher kemeja, mengeluarkan dasinya , lalu kencing di celana. Lelaki Efisien: Meskipun sudah waktunya kencing, tapi ditahan dulu sampai kebelet buang air besar, baru kemudian melakukan keduanya dalam satu waktu yang sama. Pria Pemabuk: Jempol kiri dipegang dengan tangan kanan, lalu kencing di celana. Lelaki Palsu : Kencing di toilet cewek! Pria Pelit: Kalau buang air besar di WC Umum, ngakunya kencing (biar bayar murah). Lelaki edun: Makai celana yang abis dikencingin. Lelaki Sarap: Pakai celana yang habis dikencingin, tapi dicium dulu, kali-kali aja baunya sudah jadi bau duren .. Lelaki Kreatif: Kalau kencing kakinya diangkat satu ... Lelaki Irit: Kagak pernah kencing seumur-umur. Pria Nekad: Suka numpang kencing di rumah tetangga sambil nidurin bini tetangga. Pria Funky: Kencing di tempat umum . Pria Sial: Maunya kencing air, yang keluar malah batu. Lelaki Enjoy: kencingnya sambil merem-melek. Lelaki Hemat Waktu: Cuma buka resleting, dikeluarin, terus langsung kencing. Pria Moody: Biasa pake pampers ... Pria Kurang Ajar: Lagi kencing ... eh kentut ... pura-pura cuek lagi! Pria Buta Huruf: Di urinoir sudah ada tulisan "RUSAK" ... eh ... masih dikencingin juga. Lelaki Turunan Kucing: Nggak bisa liat barang baru, diendus-endus, trus dikencingin. Lelaki Sabar: nungguin air bilasan gak keluar-keluar, manteeeng aja di urinoir. Lelaki Hip-hop: Kencing sambil kejang-kejang breakdance. Lelaki ramah: Ngajak ngobrol sambil kencing, sampe temennya nggak bisa kencing. Lelaki Pelupa: Sudah kencing, keluar toilet, buru-buru balik lagi, karena masih pingin kencing beberapa tetes lagi. Lelaki Dermawan: Kencing di WC Umum, air kencingnya nggak keluar, tapi tetep bayar. Lelaki Pembenci: Sesudah pipis trus ngeludahin pipisnya. Lelaki Cuek: Abis pipis, risleting nggak ditutup, celana nggak di kancing. Pria Cool: Pipis di kulkas. Pria Licik: Pipis di dalam kolam. Pria Berani: Pipisin kolam dari pada pinggir kolam. Lelaki populer: Pipis deket kompor. Lelaki Buaya: Pipis sambil tengkurep. Lelaki Hati-hati: Pipisnya dikeluarin pelan-pelan (takut bunyi). Lelaki Sia-sia: Pas kebelet pipis, buru-buru lari ke toilet, belum sempet buka celana udah pipis di celana duluan Lelaki Percaya Diri: Kalo pipis kepalanya tegak, sambil liat ke depan. Lelaki Penghibur: Kalo pipis sambil bersiul ato menyanyi. Lelaki Ilmuwan: Tiap kali pipis, sebagian pipisnya selalu disisihkan sbg sampel utk diteliti. Pria Sensitif : Baru minum sedikit udah kebelet pipis. Lelaki Sial: Lagi pipis, kepingin kentut .. Pria Boros: Minum sedikit, pipisnya banyak. Lelaki Bisnis: Pipisnya bisa dijual. Pria Hobi Berkebun: Pipisnya di kebun, biar subur katanya. Pria Petualang: Pipis pagi di bogor, pipis siang di Jakarta, pipis malam di Bandung. Lelaki Pemimpi: Mimpi pingin pipis, dan dikeluarin di tempat tidur. Pria Gaya: kencingnya sambil tangan yang satu tolak pinggang. Pria arogan: kencingnya sambil tangan dua-duanya tolak pinggang. Lelaki Komunikatif: Kencing sambil ketik SMS. Pria Sibuk: Selalu nunggu sampe kebelet bangeeet ..., trus terbirit-birit ke toilet |
Markas Kopassus, Cijantung
Mengenang Kedekatan Prabowo kepada Ulama dan Ummat Islam [SB]-Jiwa nasionalis relijius sebenarnya telah tertanam pada diri Prabowo Subianto, sekitar 20 tahun lalu. Tahun 1998, saat menjadi Danjen Kopassus, Prabowo dekat dengan kalangan tokoh-tokoh umat. Baik dengan tokoh MUI, NU, Muhammadiyah, DDII, KISDI dan para pimpinan pesantren se-Indonesia. Prabowo Subianto saat menjabat Danjen Kopassus melaksanakan Buka Puasa Bersama ulama dan tokoh-tokoh Islam, Jumat 23 Januari 1998 di Mako Kopassus Cijantung, Jakarta Timur (foto: Repro Media Dakwah) Mungkin karena terlalu dekatnya dengan tokoh-tokoh Islam saat itu, kalangan anti Islam menjadi tidak suka padanya. Ia akhirnya difitnah sebagai dalang penculikan & kerusuhan Mei 98 dan akhirnya menenangkan diri ke Yordania selama beberapa tahun. Kini Suara Islam memuat kembali sebagian laporan “Melawan Pengkhianat Bangsa’ di Majalah Media Dakwah, edisi Februari 1998. Berikut kutipan selengkapnya: Sebuah peristiwa bersejarah d...
Komentar